pemeriksaan telur cacing pada sampel tanah petani

Agen SBOBET
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal ini dengan Judul “PEMERIKSAAN TELUR CACING TAMBANG(HOOKWORM) PADA PETANI USIA 30 – 50 TAHUN” Proposal ini disusun sebagai persyaratan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi penelitian di Analis Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan. Dalam penyusunan Proposal ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Nova Florentina Ambarwati,M,Pd sebagai Ketua Program studi D-3 Analis Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia.
2. Bapak sriadi Sebagai Dosen Pembimbing mata kuliah metodologi penelitian .
3. Bapak/Ibu Dosen Universitas Sari Mutiara yang telah berjasa dalam memberikan ilmu baik secara teori maupun praktek di kampus.

Penulis menyadari bahwa penyusunan proposal ini belum sempurna baik dalam penulisan maupun isi disebabkan keterbatasan dan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca untuk penyempurnaan isi proposal ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga proposal ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya dibidang kesehatan.

Medan, November 2014
Penulis

REMON ADIPUTRA SINURAT

BAB 1
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam dan hayati. Banyaknya cacing tanah membuat tanah Indonesia menjadi subur, tetapi juga terdapat cacing yang dapat menginfeksi manusia.Iklim tropis menjadikan iklim yang sangat cocok untuk pertumbuhan telur si cacing yang membuat prevalensi terjadinya kecacingan di Indonesia masih sangat tinggi, yaitu sekitar 60%.
Apabila infeksi cacing terjadi pada seluruh penduduk Indonesia, maka kerugian dapat mencapai miliaran rupiah karena makanan yang dimakan diserap oleh cacing secara cuma-Cuma. Seperti yang dijelaskan dalam post tentang macam-macam cacing sebelumnya,definisi cacing tambang adalah binatang parasit cacing (nematoda) yang hidup dalam usus halus inang(induk)nya, yang dalam hal ini adalah manusia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KUBI) Cacing Tambang didefinisikan sebagai cacing parasit pengisap darah yang mempunyai pengait yang kuat pada rongga mulut atau pipi untuk menyerang usus. Cacing tambang tergolong dalam kelompok Nemathelmintes(cacing gilig).Spesies cacing tambang yang biasa menyerang manusia ada dua yakni Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Spesies pertama banyak ditemukan di daerah timur tengah dan afrika serta eropa sedangkan N. americanus di amerika,asia tenggara dan Indonesia. Mengapa sampai mendapatkan nama cacing tambang??
jawabannya karena sering dijumpai pada daerah pertambangan atau tempat-tempat becek lainnya yang menderita penyakit ini sehingga disebut dengan cacing tambang.

Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang.Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk.Ancylostoma duodenale ditemukan di daerah Mediteranian, India, Cina dan Jepang.Necator americanus ditemukan di daerah tropis Afrika, Asia dan Amerika.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah : Apakah ada penyakit Anemia pada masyarakat desa Huta Tongah akibat cacingan oleh cacing tambang(hookworm).

1.3. Pembatasan Masalah
Melihat kebersihan Masyarakat pedesaan apakah masyarakat desa Huta Tongah sudah bebas dari cacing. Maka penelitian ini menganalisa apakah benar-benar masyarakat Huta Tongah bebas dari cacingan.
a. Sampel : faeses(tinja)
b. Pemeriksaan telur cacing ini dilakukan dengan metode cellophan kato secara mikroskopis.

1.4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian adalah untuk menganalisa apakah ada penyakit anemia pada masyarakat desa Huta Tongah akibat cacing tambang(hookworm).

1.5. Manfaat Penelitian
1.Supaya masyarakat tahu apakah mereka terjangkit dengan cacing tambang(hookworm).
2. Dapat memberikan solusi kepada masyarakat dalam mengatasi masalah kecacingan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Caing Tambang
Infeksi cacing tambang adalah penyakit infeksi yang disebabkan Ancylostoma duodenale/Necator americanus. kedua spesies di atas dikenal dengan hookworm.
Penyakitnya dinamakan Ancylostoma duodenale.

2.2. Morfologi dan Daur Hidup
Hospes parasit ini adalah manusia. Seekor cacing tambang dapat menyebabkan kehilangan darah sebanyak 0,2 ml setiap harinya. Cacing dewasa dapat hidup di usus selama satu hingga lima tahun di mana cacing betina memproduksi telur.

Pada infeksi ringan hanya sedikit sekali kehilangan darahnya tetapi pada infeksi berat dapat menimbulkan pendarahan hebat, kekurangan zat besi dan berat badan turun drastis. usus. Cacing betina memiliki panjang = 9-13 mm, besar = 0,6 mm.Bertelur 10.000- 20.000 buah/hari. cacing jantan memiliki panjang = 5 – 11 mm, besar = 0,4 mm. Seekor cacing tambang dewasa dapat bertelur antara 10.000-30.000 telur per 24 jam. cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan didalamnya terdapat sepasang gigi.

Telur ini akan bertahan lama di tanah yang lembab, sejuk dan di sekitar pohon yang rindang yang biasanya terdapat di daerah perkebunan. Untuk telur cacing tambang akan dikeluarkan bersama feses. Ketika berada di dalam tanah akan menetas dalam waktu 1-2 hari dan kemudian akan menjadi larva “Rabeniti Forem”. Pada hari ke-3 “Rabeniti Forem” akan menjadi “Pilari Forem”. Dalam bentuk ini dapat hidup di tanah selama 8 minggu. Dalam waktu kisaran tersebut akan terinjak kaki dan akan menembus kulit dan menuju kepiler darah.

2.3. Siklus Hidup
Siklus Cacing Tambang didalam Tubuh Yaitu dari jantung Paru-Paru Bronkus
Bronkiolus-Trakea-Faring-Sel Pencernaan-dan kembali lagi ke usus halus.Daur hidup cacing tambang lebih panjang dari pada cacing gelang.

2.4. Penularan
Cacing tambang (Hookworm) ditularkan melalui tanah yang terkontaminasi tinja yang mengandung larva infektif. Telur dihasilkan cacing betina dan keluar melalui tinja. Bila telur tersebut jatuh di tempat yang hangat, lembab, dan basah, maka telur berpotensi menetas menjadi larva rhabditiform dalam 1- 2 hari. Setelah menetas larva selanjutnya hidup didalam tanah. Manusia bisa terinfeksi jika berjalan tanpa alas kaki diatas tanah yang terkontaminasi oleh tinja manusia, karena larva bisa menembus kulit. Infeksi per oral jarang terjai, tetapi larva dapat masuk kedalam tubuh melalui minuman dan makanan yang terkontaminasi.

2.5. Gejala Klinik
Gejala penyakit ini awal mulanya tak spesifik seperti mual, muntah, malas makan, sakit perut dan badan kurus.Bentuk cacing dewasa menempel di dinding usus halus penderita dengan menggunakan giginya.Akibat adanya gigitan ini menyebabkan pembuluh darah dinding usus mengalami pendarahan.Sebagian darah dihisap oleh cacing dewasa dan sebagian keluar dari usus sehingga pada beraknya ditemukan darah.
Gejala lain yang dapat ditemukan antara lain adalah :

  1. Demam, batuk dan bunyi nafas mengi (bengek) bisa terjadi akibat berpindahnya larva melalui paru-paru
  2. Cacing dewasa sering kali menyebabkan nyeri diperut bagian atas.
  3. Anemia karena kekurangan zat besi dan rendahnya kadar protein di dalam darah bisa terjadi akibat pendarahan usus.
  4. Kehilangan darah yang berat dan berlangsung lama, bisa menyebabkan pertumbuhan yang lambat, gagal jantung dan pembengkakan jaringan yang meluas pada anak-anak.
  5. Ruam yang menonjol dan terasa gatal (ground itch) bisa muncul di tempat masuknya larva pada kulit.
Untuk gejala yang satu ini, dikalangan media penyakit ini terkenal dengan istilah Cutaneous larva migrans. Artinya, ada migrasi larva di kulit (cutan:lapisan kulit). Nama lainnya dermatosis linearis migrans ataupun sandworm disease.Dari namanya dapat diketahui bahwa beberapa penderita terserang penyakit ini ketika berhubungan dengan pasir.

Istilah lainnya juga disebut creeping eruption (CE). Istilah ini digunakan karena pada invasi larva cacing tambang ini, akan timbul kelainan pad akulit berupa erupsi peradangan berbentuk lurus atau berliku-liku yang menonjol di atas permukaan kulit. Semua orang bisa terinfeksi penyakit ini jika secara langsung terpapar dengan larva tersebut.Namun, kelompok yang beresiko tinggi biasanya berkaitan dengan pekerjaan ataupun hobi yang membawanya terkontak dengan pasir, tanah ataupun lapisan humusnya. Diantara wisatawan yang sedang berjemur di pantai dengan telanjang kaki, anak-anak yang suka bermain pasir, petani, tukang kebun, penambang atau pekerja lain yang berinteraksi dengan tanah.

Masuknya larva kedalam kulit, biasanya disertai dengan rasa gatal dan panas pada tempat masuknya. Kemudian akan muncul tonjolan pada permukaan kulit, beberapa saat akan muncul bentuk yang khas yaitu tonjolan di atas permukaan kulit yang berkelok-kelok berwarna kemerahan. Untuk selanjutnya, tonjolan kemerahan ini akan makin berkelok-kelok membentuk terowongan sesuai dengan pergerakan larva. Tiap larva membentuk lesi berkelok-kelok seperti ular memanjang dengan ukuran beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter dalam sehari.

Penderita dapat kekurangan protein hingga timbul bengkak di seluruh tubuhnya. Gejala klinik yang lain berupa gatal-gatal di kulit karena larva cacing tambang menembus kulit, migrasi melalui kulit. Migrasi larva dapat sampai ke paru-paru hingga menyebabkan gejala batuk-batuk.Rasanya sangat gatal terutama dalam malam hari.Dalam sehari panjang terowongan ini kira-kira bisa mencapai 2 mm hingga 2 cm.

Dikatakan, adapun tempat yang terkena infeksi ini, umumnya terletak di kaki, sela-sela kaki, pantat, lutut, tangan ataupun pernah juga dilaporkan terjadi di dinding perut.

2.6. Pencegahan
Mengingat sekarang musim hujan, keadaan tanah pasti lebih lembab dibanding biasanya, orang tua yang memiliki anak kecil, diharapkan untuk mencegah anak bermain terlalu lama di tanah maupun pasir, apalgi bermain tanpa menggunakan alas kaki.Anjurkanlah mereka selalu menggunakan alas kaki.Membiasakan cuci tangan dan kaki setelah bermain di luar juga pencegahan yang baik.Untuk mereka yang pekerjaannya sering berhubungan dengan tenah atau pasir, seperti petani atau pekerja kebun, anjurkan juga untuk menggunakan alas kaki saat bekerja.
Hal sederhana lainnya adalah bagi yang memelihara anjing dan kucing untuk membuang kotoran hewan tersebut ditempat pembuangan khusus.

2.7. Pengobatan
Dengan pemberian obat dan aturan makan :
1. Pirantel pamoat 10 mg/kg BB per hari selama 3 hari.
2. Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama
tiga hari berturut-turut.
3. Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja), tetapi tidak boleh digunakan
selama hamil.
4. Sulfas ferosus 3 x 1 tablet untuk orang dewasa atau 10 mg/kg BB/kali (untuk
anak) untuk mengatasi anemia.
2.8. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja segar atau biakan tinja
dengan cara Harada-Mori. Dan dengan menemukan telur cacing dengan melihat dibawah mikroskop.
2.9. Epidemiologi
Kejadian penyakit ini di Indonesia sering ditemukan pada penduduk yang bertempat tinggal di pegunungan, terutama di daerah pedesaan, khususnya di perkebunan atau perkembangan.
2.10. Defenisi Operasional
Salah satu ciri-ciri yang terjangkit cacing tambang ( hookworm) adalah anemia.

Cacing tambang adalah salah satu jenis cacing yang menginfeksi usus sehingga penderita mengalami anemia.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan uji laboratorium dengan memeriksa feases dillihat dibawah mikroskop.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Desa Huta Tongah dan pemeriksaan di laboratorium Biologi-Kimia Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan.
3.2.2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada bulan November - Desember 2014.
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh petani Desa Huta Tongah yang berusia 30 – 50 tahun.
3.3.2. Sampel
Dalam penelitian ini jumlah sampel yang di analisa sebanyak 40 orang sampel yang diambil secara acak (random) dengan kebiasaan ke ladang tanpa alas kaki ( sendal atau sepatu bot).
3.4. Alat dan Reagensia
3.4.1. Alat
Alat-alat yang digunakan adalah:
• Objek glass
• Deck glass
• Mikroskop biasa
• Pipet tetes
• Tissue
• Aplikator

3.4.2. Reagensia
Reagensia yang digunakan adalah :
  • NaCl 0.85 %
  • Gliserin 
3.5. Prosedur Kerja
  • Siapkan alat dan bahan.
  • Sediakan objek glass dan deck glass yang steril.
  • Teteskan NaCl 0.85 % Sebanyak 1 tetes di atas objek glass.
  • Kemudian berikan 1 tetes gliserin, ambil sampel tinja/ feases sebanyak 1 tetes dengan menggunakan aplikator.
  • Campur hingga rata dan tutup dengan deck glass.
  • Amati dibawah mikroskop dengan lensa objektif 40x, dan 10x.
3.6. Hasil pemeriksaan
Positif : Ditemukan telur cacing tambang (Hookworm).
Negatif : Tidak ditemukan telur cacing tambang (Hookworm).

0 Response to "pemeriksaan telur cacing pada sampel tanah petani"

Poskan Komentar

jika ada masalah dan sesuatu tampilkan di forum ini , saran dan kritik juga boleh , terima kasih sudah berkomentar.